BUKAN PAGAR MAKAN TANAMAN
“skak!!!hahaha…kau
kalahlagi”.tawa penuh kebanggaan yang membuatku muak.padahal ini
hanyaprmainan.sekali lagi ini hanya permainan.tapi tidak untuk hari
ini.entahlah, kurasa hari ini hari tersensitif yang pernah ku
jalani.terutama ketika berhadapandengan lawan caturku ini, Tomi.“what’s up bro..”tangan kanannyamenepuk pundakku.segera ku singkirkan tangan itu.dan sepertinya ia menangkapkeganjilan atas tingkah lakuku.ku tatap matanya yang mengerling penuhkemenangan.seolah mentertawakan kekalahanku.setidaknya bukan hanya karenapermainan catur ini.tapi juga menyagkut persaingan merebut hati.
“kau sudah puas dengan semuaini,Tom?”kataku kemudian.
“apa maksudmu, Rul?”
Aku tak peduli.segera ku beranjak dari kursi danbermaksud meninggalkannya.namun baru beberapa langkah,suara Tomi menyapatelingaku.sangat dalam.
“kau cemburu, Rul?”
Sekejap
langkah kakikuterhenti.antara gengsi dan emosi namun ku coba menguasai
diri.ku balikkan badandan ku dapati Tomi yang berdiri mematung beberapa
jengkal dari tempatkuberdiri.dahinya mengernyit meminta kepastian.
“Rul, ku harap permasalahankemarin tidak menjadi boomerang persahabatan kita”. Wajah Tomimemelas.tampaknya ia menanti jawaban dariku.
Aku masih bungkam.yang ada dikepalaku adalah Tomi si penghianat, pagar makan tanaman, dan musuh dalamselimut.setengah tak percaya bahwa aku harus mengalami fase di mana aku harusdi hianati oleh sahabatku sendiri.sakit.
“Rul,ku mohon kau lebih realistismenyikapi semua ini.tolong Rul,katakana sesuatu!jangan membuatku bingung!”untukkesekian kalinya Tomi memohon.
“seharusnya kau lebih sadardengan apa yang telah kau lakukan,Tom”
Tomi diam.sepertinya ia sudah takberminat untuk membela diri.dan kurasa bukan hal penting jika aku harusberlama-lama disini.
***
Aku dan Tomi bersahabat sejakkelas 1 SMA.tak ada yang istimewa dari sosok Tomi.kecuali potongan rambutcepaknya yang di nilai “cool” oleh beberapa teman perempuan kami.Tomi memilikitatapan mata yang cukup berkelas, dan ku akui itu.dalam banyak hal, akutertinggal dibelakangnya.terutama dalam hal prestasi akademik.tapi sedikitpunkeadaan ini tak membawa pengaruh berartibagi persahabatan kami.Tomi yang gauldan low profile.kami aktif di beberapa organisasi sekolah.osis,majalahsekolah,dan satu kegiatan yang membuat kami semakin kompak,sepakbola.ekstrakurikuler favorit kami.di luar kegiatan sekolah,kami sering hang outbareng meski dengan alasan belajar kelompok.”cangkruk” di pinggiran pagar mallhanya sekedar untuk cuci mata.mengamati pejalan kaki yang hilir mudik danterkadang terlalu asik menikmati pemandangan cewek-cewek berbody aduhai yangsedang melintas.
Begitulah aku dan Tomi.tak adayang berubah hingga kami duduk di bangku kuliah.meski kami beda jurusan,tapitetap beginilah aku dan Tomi.hingga ku rasakan ada yang berbeda dari dirinyasuatu ketika.tepatnya ketika kami memasuki semester VI.tak lagi ku dapati Tomidengan celana pensil dan kaos ketatnya.dia selalu menolak ajakan hang outdengan alasan ada acara begini begitu.dan ketika aku bertandang kerumahnyasuatu hari, kudapati ada yang berbeda di kamarnya.tak ada lagi poster besarronaldo,rooney,kaka,david beckham,dan pemain bola besar dunia.semua tergantidengan foto-foto orang berjenggot dan berjubah yang sangat asing bagiku.rakbukunya yang semula penuh dengan majalah bola,comic detectif conan,dan harrypotter kesayangannya, pun terganti dengan buku-buku agama.dan tampaklah Tomidengan sosok religious dengan setelan baju koko dan celana kain biasa.
Beberapa kali ku dapati Tomitengah khusyu’ dalam sholatnya.sepintas kurenungi diriku sendiri yang lupakapan terahir kali aku sholat.tiba-tiba ada rasa malu di sana.entah pada siapa.
Aku tak pernah menanyakan lebihlanjut tentang perubahan dirinya.toh jadwal catur kami tetap lancar dan ia takpernah absen kecuali ketika ia sakit.ketika kami berjalan menyusuri lorongkampus,tak ada lagi Tomi yang bersiul-siul menggoda kaum hawa yang sedanglewat.ia lebih banyak menunduk dengan dalih “ghordul bashor”yang belakangan kuketahui artinya menundukkan pandangan.di hadapanku, Tomi tetap teman yang asikkarena cirri logat bahasa gaulnya yang tak pernah berubah.
***
Lama-lama ada rasa penasaranmenghinggapi hatiku.ada apa dengan tomy?dan semua terjawab pada suatu hari ditaman kampus.
“hai,Tom”.
“eh, kamu Rul.ngagetin aja. Adaapa?”.
“hari ini aku ikut kamu ya?”
Kedua alis Tomy bertaut.”ikutkemana?”
“kemana aja deh”.
Sejenak ia menimbang.”oke bro”.
MaafTom,bukannya aku ingin memata-mataimu.aku hanya ingin tau ada apa dan apa yangterjadi padamu.
Selepas kuliah,aku dibonceng Tomyke suatu tempat.aku tak mau bertanya kemana tujuan motor ini melaju.ku rasaTomy enggan menjawab.dan aku hawatir ia curiga dengan motifku ingin ikut kemanaia pergi.ahirnya aku tau apa yang melatarbelakangi perubahan Tomy.ia mengajakkumasuk ke rumah seeorang yang biasa di panggil ustadz shobir.setelah bersalamandengan beberapa orang yang hadir di sana,kami segera mencari tempat duduk.akumelihat diriku yang berbeda dengan mereka.celana ketat dan kaos bergambartengkorak yang ku pakai sangat terlihat kontras dengan penampilan mereka.namunyang terpenting ini adalah pengajian perdanaku.meski awalnya niatku hanya inginberlagak jadi detektif.
Diam-diam kucerna setiap nasihatustadz Shobir dalam majlis itu.hatiku terasa terketuk dan bulir-bulir beningmenetes dari kelopak mataku.ustadz Shobir berkata, jika saja manusia tautentang indahnya kebaikan,tentu ia akan ketagihan dan ingin terus memperbanyakkebaikan. Karena satu kebaikan akan di balas dengan sepuluh kebaikan bahkan takterhingga.berkali-kali ku Tanya pada diriku sendiri,kebaikan apa yang pernah kulakukan?aku hanya pemuda yang menyiakan waktu dan kesempatan.pada saat itu jugaaku bertekad untuk berubah.dan tentu adalah tomy yang menjadi perantara hidayahitu.
Di majlis istadz Shobir pula akudi pertemukan kembali dengan Hesty Aulia.teman SMPku dan cinta pertamaku.meskiia tak pernah tau apa yang ku rasa sejak dulu.aku lebih mantap menjalanihijrahku.dan setitik harapan, mungkinkah suatu saat Hestylah yang akanmenguatkan hijrahku?.dan sebagai seorang sahabat,Tomypun tau apa yangkurasa.dukungannya adalah energy husus bagiku.
Hingga tiba-tiba semua berubah180 derajat.dua bulan setelah hijrahku,aku harus menelan kenyataanpahit.terhembus kabar bahwa Tomy akan menikah dengan Hesty atas dasarperjodohan mereka oleh ustadz Shobir.aku tak pernah konfirmasi tentang hal inipada Tomy.dan aku tak pernah mau mendengar penjelasannya.meski kadang kamisempatkan diri bermain catur seperti biasa,tapi seolah aku memandangnya darikutub utara.dingin.
***
“Rul..”suara itu tiba-tiba membuyarkanrekaman masa lalu.tanpa menolehpun ku tau suara itu milik Tomi.
“mau apa kau kemari?”jawabkumalas.semalas aku memandang wajahnya.aku masih di posisiku semula.berdirimembelakanginya dan memandang laut lepas yang terhampar di hadapanku.
“Mas Rul..”aku tersentak.suaralembut itu?ya, itu suara Hesty.segera aku berbalik badan.dan benar,di hadapankusekarang berdiri dua sosok bersejarah dalam hidupku.seorang yang pernah menjadisahabatku dan wanita yang sangat ku cintai hingga kini, Hesty Aulia.
“selamat ya.pernikahan kaliantinggal menghitung hari.tentu kalian sangat bahagia,bukan?”.aku tak sanggupmemandang mata teduh Hesty.ada rasa ngilu di relung hati.
Beberapa saat kamimembisu.terdengar nafas tomi yang mendesah tertahan.mungkin ia berusahamenetralkan suasana hatinya yang entah seperti apa.aku masih sempat mencuripandang keanggunan gadis di sebelah Tomy.gadis yang pernah membuat duniakuseindah taman surga.meski kenyataannya apa yang ku rasa bertepuk sebelahtangan.fikiran nakalku menyelinap.tak ada salahnya kulirik makhluk cantik itusebelum menjadi milik orang.dan diam-diam aku tertawa dalam hati.ah, apa-apaanini.
“Mas Rul..”aku gugup bukan mainketika Hesty angkat bicara. Hawatir aksiku terdeteksi olehnya.namun aku masihbisa menguasai diri.
“kami datang kemari semata-mataingin silaturrahmi.dan mungkin jika mas berkenan,datanglah ke acara walimahkami untuk memberi doa restu pernikahan kami.”
Cess….bagai gumpalan es di terikmentari, hatiku meleleh.nuraniku menghakimi”sejahat itukah aku?Nasrul yang egois!”.akuingin menangis jika saja aku tidak lupa bahwa aku bukan anak kecil yangmerengek ketika kehilangan mainan kesayangan.
Tapitaukah kau wahai Hesty Aulia! Betapa rasa ini terukir begitu dalam hanyauntukmu.dan lebih menyakitkan ternyata kau lebih memilih sahabatku sendiriuntuk menjadi pendamping hidupmu. Kembali egoku menggugat.
Ku tarik nafas dalam-dalam.kupaksa mataku untuk memandang dua sosok itu secara bergantian.tak lupa ku pasangsenyum termanisku dan berharap semoga aku lebih bijak menghadapi hidup.kulangkahkan kaki mendekati sahabat yang sangat ku rindukan.
“Tom,apa kau tak mau memelukku?”.
Seketika mendung di wajah Tomyhilang. Terganti oleh pelangi kebahagiaan.dan seketika itu pula ia berhamburdalam pelukku.erat sekali.seolah ia tak rela jika kejadian pahit kemarinterulang lagi.
“maafkan aku,Tom.aku egois.cintasejati adalah ketika kita juga bahagia melihat orang yang kita cintai jugabahagia.dan seharusnya aku bahagia melihat kebahagiaan kalian.bukansebaliknya.maafkan aku,sobat”.Tomy mengangguk-angguk dan beberapa kali menepukpunggungku dalam rangkulannya.ku lihat hesty terpaku terharu dan tersenyumpadaku.
***
Hari-hari berikutnya hanya adaketenangan jiwa.setiap hari kusempatkan datang ke majlis Ustadz Shobir selepasjam kuliah.dan dari Ustadz Shobir pula aku mendengar tentang kisah Salman Alfarisy yang dengan ikhlas melepas cintanya demi sahabat karibnya,Abu Darda’.akumalu.tapi cukuplah masa lalu sebagai pelajaran berharga.saatnya focus menatapmasa depan.dan tentang jodoh???jodoh adalah bagian takdir.dan sesuai suratantakdir,suatu saat Allah akan mempertemukanku dengan dengan orang yangtepat.insya Allah.
“Rul, ku harap permasalahankemarin tidak menjadi boomerang persahabatan kita”. Wajah Tomimemelas.tampaknya ia menanti jawaban dariku.
Aku masih bungkam.yang ada dikepalaku adalah Tomi si penghianat, pagar makan tanaman, dan musuh dalamselimut.setengah tak percaya bahwa aku harus mengalami fase di mana aku harusdi hianati oleh sahabatku sendiri.sakit.
“Rul,ku mohon kau lebih realistismenyikapi semua ini.tolong Rul,katakana sesuatu!jangan membuatku bingung!”untukkesekian kalinya Tomi memohon.
“seharusnya kau lebih sadardengan apa yang telah kau lakukan,Tom”
Tomi diam.sepertinya ia sudah takberminat untuk membela diri.dan kurasa bukan hal penting jika aku harusberlama-lama disini.
***
Aku dan Tomi bersahabat sejakkelas 1 SMA.tak ada yang istimewa dari sosok Tomi.kecuali potongan rambutcepaknya yang di nilai “cool” oleh beberapa teman perempuan kami.Tomi memilikitatapan mata yang cukup berkelas, dan ku akui itu.dalam banyak hal, akutertinggal dibelakangnya.terutama dalam hal prestasi akademik.tapi sedikitpunkeadaan ini tak membawa pengaruh berartibagi persahabatan kami.Tomi yang gauldan low profile.kami aktif di beberapa organisasi sekolah.osis,majalahsekolah,dan satu kegiatan yang membuat kami semakin kompak,sepakbola.ekstrakurikuler favorit kami.di luar kegiatan sekolah,kami sering hang outbareng meski dengan alasan belajar kelompok.”cangkruk” di pinggiran pagar mallhanya sekedar untuk cuci mata.mengamati pejalan kaki yang hilir mudik danterkadang terlalu asik menikmati pemandangan cewek-cewek berbody aduhai yangsedang melintas.
Begitulah aku dan Tomi.tak adayang berubah hingga kami duduk di bangku kuliah.meski kami beda jurusan,tapitetap beginilah aku dan Tomi.hingga ku rasakan ada yang berbeda dari dirinyasuatu ketika.tepatnya ketika kami memasuki semester VI.tak lagi ku dapati Tomidengan celana pensil dan kaos ketatnya.dia selalu menolak ajakan hang outdengan alasan ada acara begini begitu.dan ketika aku bertandang kerumahnyasuatu hari, kudapati ada yang berbeda di kamarnya.tak ada lagi poster besarronaldo,rooney,kaka,david beckham,dan pemain bola besar dunia.semua tergantidengan foto-foto orang berjenggot dan berjubah yang sangat asing bagiku.rakbukunya yang semula penuh dengan majalah bola,comic detectif conan,dan harrypotter kesayangannya, pun terganti dengan buku-buku agama.dan tampaklah Tomidengan sosok religious dengan setelan baju koko dan celana kain biasa.
Beberapa kali ku dapati Tomitengah khusyu’ dalam sholatnya.sepintas kurenungi diriku sendiri yang lupakapan terahir kali aku sholat.tiba-tiba ada rasa malu di sana.entah pada siapa.
Aku tak pernah menanyakan lebihlanjut tentang perubahan dirinya.toh jadwal catur kami tetap lancar dan ia takpernah absen kecuali ketika ia sakit.ketika kami berjalan menyusuri lorongkampus,tak ada lagi Tomi yang bersiul-siul menggoda kaum hawa yang sedanglewat.ia lebih banyak menunduk dengan dalih “ghordul bashor”yang belakangan kuketahui artinya menundukkan pandangan.di hadapanku, Tomi tetap teman yang asikkarena cirri logat bahasa gaulnya yang tak pernah berubah.
***
Lama-lama ada rasa penasaranmenghinggapi hatiku.ada apa dengan tomy?dan semua terjawab pada suatu hari ditaman kampus.
“hai,Tom”.
“eh, kamu Rul.ngagetin aja. Adaapa?”.
“hari ini aku ikut kamu ya?”
Kedua alis Tomy bertaut.”ikutkemana?”
“kemana aja deh”.
Sejenak ia menimbang.”oke bro”.
MaafTom,bukannya aku ingin memata-mataimu.aku hanya ingin tau ada apa dan apa yangterjadi padamu.
Selepas kuliah,aku dibonceng Tomyke suatu tempat.aku tak mau bertanya kemana tujuan motor ini melaju.ku rasaTomy enggan menjawab.dan aku hawatir ia curiga dengan motifku ingin ikut kemanaia pergi.ahirnya aku tau apa yang melatarbelakangi perubahan Tomy.ia mengajakkumasuk ke rumah seeorang yang biasa di panggil ustadz shobir.setelah bersalamandengan beberapa orang yang hadir di sana,kami segera mencari tempat duduk.akumelihat diriku yang berbeda dengan mereka.celana ketat dan kaos bergambartengkorak yang ku pakai sangat terlihat kontras dengan penampilan mereka.namunyang terpenting ini adalah pengajian perdanaku.meski awalnya niatku hanya inginberlagak jadi detektif.
Diam-diam kucerna setiap nasihatustadz Shobir dalam majlis itu.hatiku terasa terketuk dan bulir-bulir beningmenetes dari kelopak mataku.ustadz Shobir berkata, jika saja manusia tautentang indahnya kebaikan,tentu ia akan ketagihan dan ingin terus memperbanyakkebaikan. Karena satu kebaikan akan di balas dengan sepuluh kebaikan bahkan takterhingga.berkali-kali ku Tanya pada diriku sendiri,kebaikan apa yang pernah kulakukan?aku hanya pemuda yang menyiakan waktu dan kesempatan.pada saat itu jugaaku bertekad untuk berubah.dan tentu adalah tomy yang menjadi perantara hidayahitu.
Di majlis istadz Shobir pula akudi pertemukan kembali dengan Hesty Aulia.teman SMPku dan cinta pertamaku.meskiia tak pernah tau apa yang ku rasa sejak dulu.aku lebih mantap menjalanihijrahku.dan setitik harapan, mungkinkah suatu saat Hestylah yang akanmenguatkan hijrahku?.dan sebagai seorang sahabat,Tomypun tau apa yangkurasa.dukungannya adalah energy husus bagiku.
Hingga tiba-tiba semua berubah180 derajat.dua bulan setelah hijrahku,aku harus menelan kenyataanpahit.terhembus kabar bahwa Tomy akan menikah dengan Hesty atas dasarperjodohan mereka oleh ustadz Shobir.aku tak pernah konfirmasi tentang hal inipada Tomy.dan aku tak pernah mau mendengar penjelasannya.meski kadang kamisempatkan diri bermain catur seperti biasa,tapi seolah aku memandangnya darikutub utara.dingin.
***
“Rul..”suara itu tiba-tiba membuyarkanrekaman masa lalu.tanpa menolehpun ku tau suara itu milik Tomi.
“mau apa kau kemari?”jawabkumalas.semalas aku memandang wajahnya.aku masih di posisiku semula.berdirimembelakanginya dan memandang laut lepas yang terhampar di hadapanku.
“Mas Rul..”aku tersentak.suaralembut itu?ya, itu suara Hesty.segera aku berbalik badan.dan benar,di hadapankusekarang berdiri dua sosok bersejarah dalam hidupku.seorang yang pernah menjadisahabatku dan wanita yang sangat ku cintai hingga kini, Hesty Aulia.
“selamat ya.pernikahan kaliantinggal menghitung hari.tentu kalian sangat bahagia,bukan?”.aku tak sanggupmemandang mata teduh Hesty.ada rasa ngilu di relung hati.
Beberapa saat kamimembisu.terdengar nafas tomi yang mendesah tertahan.mungkin ia berusahamenetralkan suasana hatinya yang entah seperti apa.aku masih sempat mencuripandang keanggunan gadis di sebelah Tomy.gadis yang pernah membuat duniakuseindah taman surga.meski kenyataannya apa yang ku rasa bertepuk sebelahtangan.fikiran nakalku menyelinap.tak ada salahnya kulirik makhluk cantik itusebelum menjadi milik orang.dan diam-diam aku tertawa dalam hati.ah, apa-apaanini.
“Mas Rul..”aku gugup bukan mainketika Hesty angkat bicara. Hawatir aksiku terdeteksi olehnya.namun aku masihbisa menguasai diri.
“kami datang kemari semata-mataingin silaturrahmi.dan mungkin jika mas berkenan,datanglah ke acara walimahkami untuk memberi doa restu pernikahan kami.”
Cess….bagai gumpalan es di terikmentari, hatiku meleleh.nuraniku menghakimi”sejahat itukah aku?Nasrul yang egois!”.akuingin menangis jika saja aku tidak lupa bahwa aku bukan anak kecil yangmerengek ketika kehilangan mainan kesayangan.
Tapitaukah kau wahai Hesty Aulia! Betapa rasa ini terukir begitu dalam hanyauntukmu.dan lebih menyakitkan ternyata kau lebih memilih sahabatku sendiriuntuk menjadi pendamping hidupmu. Kembali egoku menggugat.
Ku tarik nafas dalam-dalam.kupaksa mataku untuk memandang dua sosok itu secara bergantian.tak lupa ku pasangsenyum termanisku dan berharap semoga aku lebih bijak menghadapi hidup.kulangkahkan kaki mendekati sahabat yang sangat ku rindukan.
“Tom,apa kau tak mau memelukku?”.
Seketika mendung di wajah Tomyhilang. Terganti oleh pelangi kebahagiaan.dan seketika itu pula ia berhamburdalam pelukku.erat sekali.seolah ia tak rela jika kejadian pahit kemarinterulang lagi.
“maafkan aku,Tom.aku egois.cintasejati adalah ketika kita juga bahagia melihat orang yang kita cintai jugabahagia.dan seharusnya aku bahagia melihat kebahagiaan kalian.bukansebaliknya.maafkan aku,sobat”.Tomy mengangguk-angguk dan beberapa kali menepukpunggungku dalam rangkulannya.ku lihat hesty terpaku terharu dan tersenyumpadaku.
***
Hari-hari berikutnya hanya adaketenangan jiwa.setiap hari kusempatkan datang ke majlis Ustadz Shobir selepasjam kuliah.dan dari Ustadz Shobir pula aku mendengar tentang kisah Salman Alfarisy yang dengan ikhlas melepas cintanya demi sahabat karibnya,Abu Darda’.akumalu.tapi cukuplah masa lalu sebagai pelajaran berharga.saatnya focus menatapmasa depan.dan tentang jodoh???jodoh adalah bagian takdir.dan sesuai suratantakdir,suatu saat Allah akan mempertemukanku dengan dengan orang yangtepat.insya Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar