Senin, 30 Desember 2013

TAK SEINDAH REMBULAN

TAK SEINDAH REMBULAN

Oleh : Aina Faradisa

Kamil kembali menataberkas-berkas biodata itu. Sesekali ia menautkan kedua alisnya sepertikeheranan. Hingga matanya tertuju pada lampiran teratas dari tumpukan kertasitu. ia amati  pas foto berwarna 3x4 yangterpasang di pojok bawah biodata itu. tampak gadis berjilbab biru muda yangtersenyum simpul.cantik.
“kalau yang ini menurutmugimana,mi?”. kamil menyodorkan biodata itu kepada dewi,istrinya. Dewi yang semulasedang membaca majalah disamping suaminya langsung mengamati kertas berisibiodata itu dan membacanya pelan”andini maulida,sedang menempuh semester VIfakultas kedokteran universitas brawijaya”. Dewi manggut-manggut.”cantik,bi.Apalagi masalahnya? Gak cocok lagi?”
Kamil tersenyum menatap istrinya.Dewipun faham bahwa tebakannya tidak salah. Kamil menyandarkan diri di kakimeja ruang tamu. Matanya menerawang memikirkan taufiq, adik angkatannya yangdua bulan lalu minta di carikan calon istri. Tapi entah kenapa tak satupunwanita yang di ajukan bisa cocok di hati taufiq.
“sudahlah,bi. Kita kan sekedarmembantu. Jangan sampai kita jadi ndak ikhlas karena semua kandidat yang kitacalonkan di tolak gitu aja. Dikira gampang apa mengumpulkan info tentangwanita-wanita itu. umi udah susah-susah ngumpulin biodata adik kelas umi yangdi pondok. Abi juga udah berusaha ngumpulin info tentang anak-anak kampus yangsekiranya siap menikah.eh, ditolak gitu aja”.dewi tampak sewot.
Kamil melirik istrinya denganmenahan tawa”terus menurut umi gimana?”
“kadang laki-laki itu emangegois”.spontanitas dewi itu membuat kamil semakin penasaran.
“lho..lho..egois gimana to,mi?”
“yah, bisa-bisanya aja mereka itusuka cari sensasi.”
“Terus?” kamil masih kebingungan.
“kalau perempuan nolak laki-lakiitu kesannya gimana gitu. Langsung di cap sombong lah, jual mahal lah, apa lah”
“terus?”kamil mulai mengerti alurpembahasan istrinya. Dia justru semakin menikmati pola pikir istrinya yangkadang susah ditebak.
“lah, kalau laki-laki gak sregsama perempuan,seenaknya saja main tolak sana sini”.
“Terus?” kamil memang sengajaingin melihat istrinya jengkel. Karena menurutnya, istrinya itu 99,99 %terlihat lebih cantik dengan ekspresi kejengkelannya.
“ih, abi ini apa-apaan sih. Daritadi terus-terus aja.umi serius!!”. Dewi mulai sadar bahwa ia sedang dikerjainsuaminya.
Seketika tawa kamil membahanamemenuhi ruang tamu. Dewi masih cemberut saja.”mi, dengarkan abi. Kita menjadimedia pencarian jodoh untuk taufiq itu memang bukan perkara mudah. Tapi kitaharus ingat, semua ini semata-mata untuk membantu saudara muslim kita,mi.kitaharus ikhlas”.kamil membelai lembut kapala istrinya. dewi bisa mengerti. tapitak mudah baginya untuk menerima penjelasan suaminya. Naluri wanitanya seolahmemberontak karena terkadang wanita memang tak suka dengan sifat lelaki yangover selectif.
“wes to,mi.biarpun umi menjusticeseluruh lelaki itu sama. Tapi abi beda kok. Abi baik, abi gak egois, dan abisayang,,,banget sama umi,lillahi ta’ala. Abi juga bersyukur banget punya umi.Udah cantik, baik, meski kadang suka marah-marah.hehe”
Dewi memukul lengan suaminya pelan.pukulan sayang.”masih sempet ya godain umi?”.pipi dewi merona merah. Malu.
“ye,,biarin. Istri, istrikusendiri. Masalah buat lo?” kamil menjulurkan lidahnya meledek dewi. Danistrinya itu hanya tertawa dan geleng-gelang kepala menyaksikan aksi suaminyaitu. “lagian nih, mi. kalau godain umi itu dapat pahala. Emang umi mau kalauabi godain wanita lain?”.
Seketika raut wajah dewi berubah.“kalau abi berani gitu, umi bakal gantung abi”
“haha. Gak papa deh. Umi kan gantungnyapake cinta. Abi rela”. Kamil mengerling centil pada istrinya. dan dewi punkehabisan kata. Skor 1-0.
Terdengar suara mobil di parkirdi halaman rumah. “siapa,mi?”. kamil melongok memandang pintu. Namun belumtampak sosok yang dicari.
Dewi beranjak dari duduknya danmenyingkap gorden jendela. “taufiq, pangeran mencari cinta”. Kamil hanyamenahan tawa melihat ekspresi lucu istrinya. “ya sudah, bi. Umi buatin teh dulu.Sekalian umi  mau nyiapin makan siang ya.Keburu farhan dan farah pulang sekolah”. Dewi langsung menuju dapur.
“assalamu’alaikum, mas”. Taufiqmemasuki ruang tamu rumah kamil.
“wa’alikum salam warohmatullohiwa barokatuh. Sini, om. Dari mana nih? Capek banget kayanya”. Keduanya berjabattangan. Dan kamil mempersilakan tamunya duduk.
“dari ngurusi proyek baru, mas.Deket dari sini kok. Makanya sekalian mampir”. Taufiq meletakkan ranselnya.“sepi banget, mas. Si kembar belum pulang ya?”
“ya, belum pulang. Maklum lah,sebentar lagi kan UN SMP. Biasanya ada les tambahan. Mbak dewi ada kok. Mungkinlagi belanja di warung sebelah”
“ow”. Taufiq seperti tak perlubasa-basi lagi. Ia ingin segera membahas kelangsungan masa depannya. Tapi canggung.
Kamil mengerti bahasa tubuh adikkelasnya itu. “gimana, om. Udah ada yang cocok belum?”
Taufiq mengeluarkan berkasbiodata dari ranselnya. Ada sekitar 15 biodata gadis kenalan kamil dan dewidisana. “maaf mas. Belum ada yang cocok”. Dengan hati-hati, Taufiq meletakkanberkas itu di meja.
Kamil menghela nafas panjang.“kalau andini maulida itu gimana, om? Dia calon dokter lho. Cantik, dan secara nasab,dia masih keponakan kyai sholah”. Kamil promosi.
“ah, saya gak siap punya istridokter, mas. Sepertinya waktu dan tenaganya akan di habiskan untuk mengabdipada kesehatan masyarakat. Saya hawatir dia tidak punya waktu untuk mengurussaya dan anak-anak kelak.” Jawab taufiq diplomatis.
Kamil bisa mengerti. Jawaban yangrealistis memang. “terus yang bagaimana lagi, om?”
“mas, njenengan kan seorang dosensekaligus staf kampus. Tentu kenal dengan banyak mahasiswinya.” Wajah taufiqmemelas.
Pembahasan mereka hentikansebentar karena dewi keluar dengan membawa nampan berisi 2 cangkir teh. “lamagak kelihatan, fiq”
“lagi banyak kerjaan, mbak.Seminggu lalu dari sini kok. Tapi mbak lagi jalan-jalan sama sikembar farhandan farah”.
“oh gitu. Ya sudah, monggo diminum tehnya”.
“eh, iya mbak. Terima kasih”.
Dewi kembali menuju dapurmeneruskan aktifitasnya. Kamil meneruskan pembahasan.”begini, om. Memangmenurutku, kamu itu sudah saatnya menikah. Penghasilan sudah punya, secara usiajuga matang banget malah. Tapi jangan sampai apa yang sudah menjadipencapaianmu itu justru menjadi boomerang untuk dirimu sendiri”.
Taufiq bingung.”maksudnya, mas?”
Kamil menata kalimatnya denganhati-hati. Hawatir taufiq tersinggung.”mungkin secara penilaian wanita, Kamuitu sudah memiliki kriteria lelaki idaman. Sarjana muda jebolan pesantren salafyang tampan dan sukses menjadi kontraktor bangunan. Tapi jangan sampai apa yangdi anugrahkan Alloh kepadamu itu membuatmu merasa tinggi sehingga terlalumematok harga untuk sosok yang akan mendampingi hidupmu dengan dalih kafa’ahatau harus sekufu. Maaf, fiq. Saya dan mbak dewi hanya membantu. Kapasitas kamisekedar media agar kamu dipertemukan dengan jodohmu. Kamu berhak memilih. tapijangan lupa, tawakkallah dengan taqdir Alloh”. Kamil mengahiri uneg-unegnya.
Taufiq diam sesaat sebelummeneruskan kalimatnya.”iya mas. Saya tau. masalahnya, dari sekian calon yangnjenengan ajukan, belum satupun yang bisa menarik hati saya. Maaf jika sayamerepotkan njenengan dan juga mbek dewi. Tapi hanya njenengan dan mbak dewiyang saya percaya untuk membantu ikhtiyar saya”.
“waduh, fiq. Sama sekali kamitidak merasa direpotkan. Saya harap kamu tidak salah faham. Ya sudah, saya danistri akan berusaha semampu kami”.
Taufiq tersenyum lega demimendengar pengertian dari kakak angkatannya itu. “terima kasih mas. Saya jadigak enak selalu merepotkan njenengan. Saya pamit dulu ya. Ada janji denganklien”.
“ok, om. Tapi mbok ya diminumdulu tehnya. Hehe”
“oh, iya”. Taufiq menyeruputtehnya. Setelah dirasa cukup, taufiq pun pamit undur diri.
Seperginya taufiq dari kediamankamil, dewi keluar menghampiri suaminya. “masih gak mau ngerti juga dia, bi?”
Kamil menatap istrinya denganpenuh selidik.”hayo, umi nguping ya. Gak baik lo, mi”
“gak sengaja, bi”
“Hmm,,gak sengaja tapi koksepertinya,,,”. kamil sengaja menggantung kalimatnya. Ingin tau bagaimanatanggapan dewi selanjutnya.
“udah ah, bi. Intinya umiprihatin aja sama si taufiq. Abi udah ngasih pengertian segitu gamblangnyamasih aja dia gak ngerti. Heran umi. Seleranya kaya apa sih. jadi penasaran”.
“mi, gak boleh su’ud dzon gitu.Selama kita bisa bantu, why not?. Cuma yang bikin abi ganjil itu pernyataandia. Katanya Cuma kita yang dipercaya untuk membantu ikhtiyarnya. Padahalrelasinya kan banyak banget”.
Dewi mencerna kata-kata suaminya.Otaknya bekerja keras untuk menafsiri apa maksud potongan kalimat itu.dandengan cepat, ia pun mengungkapkan gagasannya. “bi, ini sekedar prediksi umi.Apa mungkin ada seseorang yang di maksud taufiq?”
“maksud umi?”.
“tadi kan abi bilang, katanyataufiq minta bantuan kita karena Cuma kita yang dipercaya bisa membantuikhtiyarnya. Menurut umi, taufiq sedang suka sama wanita yang kita kenal. Tapimungkin dia malu untuk berterus terang. Makanya dia minta di carikan calon samakita dengan harapan salah satunya adalah wanita yang dimaksud”. Dewi menaikkanalisnya. Meminta tanggapan.
“hmm..analisis umi keren juga.Mirip detective. Ah, abi jadi tambah cinta nih punya istri pinter banget.hehe”
“mulai deh jurus gombalnya”. Dewitersipu-sipu.”udah ah bi, jadi gimana selanjutnya?”
“selanjutnya apa?” kamilsenyum-senyum.
Dewi mencubit pinggang suaminyagemas. Tapi yang dicubit malah ketawa-ketiwi minta ampun.”duh, galak bangetistriku. Kalau menurut umi gimana?”
“menurut umi, abi suruh taufiqkesini aja. Nanti abi minta kejelasan langsung dari dia. Biar dia tenang, kitajuga lega. Gimana?”
“ide bagus, mi. iya deh, biarbesok dia kesini. Mumpung hari minggu. semoga gak sibuk dia.”
Sayup-sayup adzan dzuhurberkumandang. Keduanya bergegas mensucikan diri dan mengambil air wudlu untuk melaksanakansholat dzuhur berjamaah.
***
“ada apa, mas? Kayanya kokpenting banget”. Taufiq penasaran.
“begini, to the point saja, fiq.Soal pencarian calon istri untukmu itu. saya mau Tanya, apa kamu punya sasarankhusus?”
“maksudnya, mas?”
“yah, mungkin saja kamu punyaharapan bahwa dari sekian calon yang saya ajukan itu ada salah satu yangsebenarnya kamu incar dari awal”.
Dan tebakan kamil itu benaradanya. Seketika wajah taufiq bersemu merah karena malu.”i..iya, mas.”
Kamil tertawa hingga menampakkanbarisan giginya yang tersusun rapi.”fiq..fiq. kamu itu sudah dewasa. Kok masihsuka kucing-kucingan kaya gini sih. Ya sudah, sekarang kamu jujur saja. Siapaperempuan itu?”
Taufiq nyengir salah tingkah.”Perempuan itu..”.taufiq ragu untuk meneruskan kalimatnya.
“perempuan itu siapa?”. Kamilmulai tak sabar.
“perempuan itu… nurul, adik maskamil sendiri”.
Plong..beban berton-ton dari hati taufiq runtuh seketika. Meski iasadar, banyak kemungkinan yang mungkin terjadi setelah statemen kejujurannyaitu. di sisi lain, kamil masih setengah tak percaya bahwa ternyata adiknyalahyang di taksir sama taufiq.
“bagaimana, mas?”. Suara taufiqmengejutkan kamil dari renungannya.
“begini, fiq. Kita sudah salingkenal sejak lama. Saya pribadi sih gak keberatan misalnya kita iparan. Justruseneng malah. Tapi pada intinya, keputusan ada di tangan nurul. Apakah dia bisamenerima kamu atau sebaliknya, itu hak dia. Biar nanti saya omongkan hal inisama dia. Kamu bisa ngerti kan?”. Jawaban yang bijak.
Taufiq tampak senang.”iya, mas.Terima kasih untuk pengertiannya”.
***
Dewi hampir tak percaya dengancerita suaminya.”ya Alloh, tau gitu kenapa gak dari dulu aja dia terus terang.Bener-bener bikin gemes tu anak. Terus apa rencana abi selanjutnya”.
“ya abi mau menyampaikan hal inilangsung sama nurul. Biar dia yang menentukan. Nanti sore abi mau ke rumah ibu.Abi mau ngomong langsung sama ibu dan juga nurul”.
“ya udah bi. Umi doakan apapunkeputusannya, semoga itu yang terbaik ya bi”
Kamil mengangkat dua jempolnya.Tanda salut untuk istrinya.
“Assalamu’alaikum,,”. Terdengarada orang uluk salam dari luar. Suara yang sangat di kenal. Suara wanita yangbaru saja dirasani.
Kamil dan dewi berpandangan.“nurul”tebak kamil dan dewi bersamaan. “wa’alaikum salam”. Keduanya segera menujuruang tamu.
“dek nurul kok gak ngabari kalaumau kesini?” dewi menyambut adik iparnya. Bersalaman dan cipika cipiki.
“iya mbak. Tadi abis bimbinganskripsi dari rumah dosen. Sekalian mampir deh. Kangen sama si kembar.hehe,,”
“wah, tante nurul bakal kecewanih. Soalnya si kembar ada acara outbond. Jadi gak dirumah”. Kamil menimpali.“oh ya, rul. Kebetulan juga kamu kesini. Ada yang mau mas kamil dan mbak dewisampein ke kamu”
“soal apa, mas?” nurul menatapkamil dan dewi bergantian.
Kamil dan dewi menceritakankronologi pergolakan batin taufiq. Seluruhnya disampaikan pada nurul. Tentangniat taufiq hingga ulah taufiq yang sempat membuat kamil dan dewi kebingungan.Sedang nurul sendiri tak habis pikir. Sejak kapan seniornya itu menaruh hatipadanya. Seingatnya, terakhir bertemu pada waktu acara debat mahasiswa tingkatpropinsi di blitar.
“gimana, rul?”. Kamil menunggujawaban nurul.
“nurul gak bisa jawab sekarang,mas. Nurul minta waktu 3 hari untuk berpikir. dan tolong sampaikan pada mastaufiq, 3 hari lagi nurul tunggu kedatangannya di taman kota jam 4 sore”. Jawabnurul dengan tenang.
“baiklah, nduk. Istikhorohlah!!.Mohon yang terbaik pada Gusti Alloh”. Kamil menepuk bahu adiknya. Memberisupport.
***
“jadi gimana, dek?”. Hati taufiqketar ketir menunggu jawaban.
“maaf, mas. Nurul gak bisamenerima mas taufiq”. Gadis itu menundukkan pandangannya. Tak berani menatapsosok di hadapannya.
“kenapa, dek?”
“nurul hanya wanita biasa, mas.Nurul tidak bisa seperti kriteria yang selalu mas cari”.
Taufiq mulai kebingungan.”kriteriaitu hanya akal-akalanku saja. Dan menurut mas, kamu punya seluruh kriteria yangmas cari”. Taufiq berusaha meyakinkan.
“mungkin sekarang mas taufiq bisaberkata seperti itu. tapi siapa yang bisa menjamin jika suatu saat nanti nurultidak bisa menjadi apa yang njenengan inginkan. Maaf mas, nurul tidak siapdengan tuntutan yang sewaktu-waktu bisa terjadi”.
Getir. Betapa kalimat wanitapenuh kelembutan itu benar-benar membangunkan kesadaran taufiq. “baiklah, dek.Kamu berhak memilih keputusan. Mas bisa terima kok”. Taufiq berusaha tersenyummeski hatinya teriris. Perih.
Setelah nurul berpamitan,tinggallah taufiq merenungi semua kesalahannya. Taufiq hanya manusia biasa. Taksepantasnya jika keterbatasannya itu selalu ditutupi dengan segala tampilanluar yang tak akan tahan lama. Bahkan ketika tiba masanya mencari pendampinghidup, pun harus melalui tahap seleksi bak sayembara putra mahkota. Ah, danbegitulah kodratnya. Bahwa penyesalan selalu terlambat adanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar