Rabu, 29 Januari 2014

BUKAN PUISI

Oleh : Aina Faradisa

angin,,,
terbangkan salamku.ketika nafas tak lagi mampu tersentuh pesona pelangi.telahku semayamkan setiap detik dari masaku yang habis untuk menantikannya.suatukisah rumit berhias sandiwara belaka.

angin,,,
tahukah engkau bagaimana ia membawaku dalam skala hidupnya?aku tak sadar ketikaia mengukirku dalam kebenciannya.aku hanya merasa perlu menetralkanketidakseimbangan kenyataan itu.meski ku tak sadar tentang sikapnya yang samasekali tak terbaca.

angin,,,
pada pagi hari ia datang sebagai orang asing yang tak pernah tertulis dalamagenda hidupku.ku hanya merekam namanya saja.tak lebih dari itu.siang hari iamasih bersamaku.ia berteriak dengan suara lantang "Dunia,,,perkenalkan!akuadalah SAHABAT,,,"

angin,,,
engkau adalah saksi SAHABAT itu.walau aku meninggalkannya siang itu,tapisahabat telah mengikat hatiku dan hatinya.sampai ahirnya pada sore hari,iamenghampiriku di detik-detik terahir.dia memakai topeng setan.aku benci itu.iamendekat dan akupun lari.ku anggap itu sebagai mimpi buruk.dan detik terahirpunhabis.dimensi ruang dan waktu membawa ke dalam lukisan dunia baru.memisahkankudarinya.

angin,,,
dunia baruku hanya punya satu warna.itulah ketenangan.tapi ketenangan itu tidakberlaku untuk malam.malam selalu merangkai serpihan kisah itu tanpa belaskasih.menghancurkan setiap episode mimpi yang ku rajut dari titik nol.apa yangterjadi?siapa sebenarnya dia?tapi ku masih disini.berpijak sekuat tenaga meskibayangnya seperti cambuk yang meluluhlantahkan istana kecilku saat ini.

angin,,,
kegalauan terjawab.ia benar-benar datang dan melepas topengnya.apakah Tuhanyang telah mengembalikannya?benar-benar sebuah skenario maha dahsyat yang takkan mampu terjangkau oleh sudut pandang manapun.sebuah alur yang melabuhkankudi ketenangan samudera cinta-Nya.aku tak mampu bergerak.hanya kepada-Nya kumengadu.dan di bumi ini ku simpan kekacauan itu sendiri.

angin,,,
cahaya temaram rembulan berbincang denganku suatu malam.ia begitu ramah ketikamelukiskan rahasia di balik kebencian yang sebenarnya tak lebih dari sisi tipiskehidupan.ku hanya sanggup menjadi pendengar setia.ku rangkai dengan baiksetiap gambaran itu.dan aku terdiam sangat lama.agar telingaku tidak terlalubising mendengar suara mulutku.karena saat ini ku hanya ingin mendengar suarahatiku yang selalu mengartikan setiap garis abstrak dalam lintasan inderaku.

angin,,,
ketika fajar hadir dalam hidupku,rembulanpun beranjak pergi.tapi sebelum iamenjauh,ia tinggalkan selaksa bintang yang selalu ada walau mentarimenyamarkannya.inilah puncak teka-teki itu.topeng yang sengaja menjadi jembatanujian telah ia ciptakan dengan sempurna.ia titipkan separuh jiwanya yang telahmendidih tertelan sumpahnya.dan kini ku berdiri di ambang tanya.tepat dihadapanku dinding kokoh menjulang tinggi menjadi tabir antara aku dan dia.akuharus memilih jalan bercabang tak bertepi.

angin,,,
aku tak berhak atas dirinya bahkan atas diriku sendiri.ku tutup rapat setiapcelah suram dari tangga hidup.aku hanya berhak menjaga semua titipan dankesempatan yang telah ku sanggupi sebagai janji dan amanah.aku butuh waktuuntuk belajar dan mengerti.dan untuk membangun benteng sang raja agar mata initak silau oleh rasa.

angin,,,
aku bukan kehancuran barisan tentara perang.tapi aku menggali sedalam pusaranbumi dan ku tanam setiap aliran darah dari jiwanya.maaf...!maaf...!maaf...!akuharus memaksa dalam keadaan terpaksa."ambillah jiwamu kembali.bawa sertasalam dan doaku".mungkin semua ini telah menjadi ahir.tapi mungkin pulabukan yang terahir.


Ya Alah,,,
ajarilah aku ikhlas,,,
jadikan aku hambamu yang pandai bersyukur,,,
dan tundukkan hatiku dalam cinta-Mu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar