Minggu, 23 Februari 2014

CERPEN SAHABAT : CINTA LELAKI BIASA

CINTA LELAKI BIASA


Jamil tengah memberesi barang-barang ditokonya. Hari ini tokonya harus tutup awal karena sepanjang jalan PP. Ar-Rohmanharus di tutup untuk acara haflah akhirus sanah malam harinya. Jamil juga didaulat menjadi pembawa acara pada acara itu. Sejenak ia menimbang ‘pakai baju mana kira-kira nanti malam ya?’.Tiba-tiba jamil tersenyum geli ‘lha wongora ngganteng ae kok kakean istilah’. Tapi terkadang performa seseorangmemang di nilai dari balutan dzohirnya. Ibarat pepatah jawa, ajineng rogo soko busono. Dan sepertinyajamil lebih memilih tampil sederhana. Yang penting rapi dan sedikit membantukenyamanan show-nya yang di anggaptidak good looking itu.
“mil, ayo mangkat. Jam piro iki?” jamilmelongok di antara deretan rentengan shampo. Mancari sumber suara.  Gus Rofi, Lurah pondok.
“ya, gus. Sampeyan dulu saja. Nanti sayanyusul”.
Tapi mendengar jawaban itu, gus rofitampak tak suka. “heh,sampeyan ikijangan mentang-mentang jadi wong penting di acara terus sak penak’e udelmu.baru di izini yai buka toko di pondok saja sudah sok. Arep jungkir walik yo gakbakal sugih, kon. Gawe sangu rabi, ta? Haha.. ngimpi, kon”.
Jamil diam menahan sesak. Para santri yangkebetulan lewat pun sekilas melirik aksi gus rofi. Namun tak ada yang kaget.Sudah mabni dari sononya.
“geh, gus. Mangke kulo nyusul”. Ucap jamildengan bahasa kromo alus. Adat jawa satu itu memang ampuh untuk meredam emosi.Karena ketika seseorang dibasani, otomatisia akan merasa dihormati. Dan terbukti, gus rofi langsung pergi tanpa berkataapa-apa lagi.
Jamil memandang punggung gus rofi yangsemakin menjauh. lelaki bertitle ‘gus’ yang gagah dan berjalan denganmembusungkan dada. Berwajah tampan bak artis hollywood dan putra kyaikesohor  di bumi timur jawa. Penaklukhati ‘mbak-mbak pondok’ dan kabarnyasedang berjuang mendapatkan cinta aini. Santri putri baru lulusan universitasternama di kota malang. Ah, sejak kapan jamil peduli dengan gosip seputar gustrendy itu. Namun kadang ada yang menggelayut di hatinya. Buah memang jatuh takjauh dari pohonnya. Bagaimanapun juga gus rofi adalah putra seorang ulama. Jamiltetap tawadlu’ dalam rangka menghormati ilmu ulama. Dan bagi jamil, tak cukupmenghormati ulama, tapi penghormatan itu juga berlaku bagi dzurriyahnya. Meskikadang jamil juga sakit hati karena ulah gus rofi yang sering kebangeten menghinanya. Jamil Cuma “ngempet”.

***

Acara akan di mulai seperempat jam lagi.Namun masalah datang dari qori’ yang berhalangan hadir. Marni, anak kelas 3banat yang bertugas sebagai qori’ah sedang sakit. Jamil kebingungan mencaribadal. Tapi siapa?
“mbak aini saja,mil. Dia sepupunya marni.Bakatnya sama”. Celetuk hasan memberi saran.
“ok, orangnya dimana?”
“paling juga sama mbak-mbak yangbergerombol di sana”. Hasan menunjuk sekumpulan santri putri di sisi kananlapangan.
Jamil tancap gas. Dia tidak punya banyakwaktu lagi. Agak ragu ia mendekat kerumunan gadis-gadis berjilbab itu.
“assalamu’alaikum. Maaf yang namanya mbakaini yang mana ya?”
“wa’alaikum salam. ada apa kang mencarisaya?” gadis berjilbab putih muncul dari kerumunan itu. Subhanalloh, cantiknya.Jantung jamil serasa berhenti berdetak. Dan di bawah temaram rembulan, Jamiltenggelam dalam kedalaman mata indah itu. Seperti terhipnotis, jamil terpesona.
“maaf, kang. Ada apa mencari saya?” ainimengulang pertanyaannya. Jamil terbangun dari alam bawah sadarnya.
“s..saya MC, mbak. Qori’nya berhalanganhadir. Mbak bisa menggantikannya?”
“oh geh, kang. Insya Alloh”. Jawab ainiseperlunya.
Setelah mengucap terima kasih, jamilburu-buru mengambil langkah seribu. ‘adaapa dengan diriku?’. Astaghfirulloh,,
Sepanjang acara, jamil tak tenang. Ia taktau apa yang ia alami. Parahnya, keadaan itu semakin menjadi ketika sangqori’ah naik ke podium. Lantunan kalam indah itu membentangkan selaksa rasa.Namun entah apa.

***

Usaihaflah, liburpun tiba. Aini pulang dengan segunung beban. Perlahan ia membukasaku depan ranselnya. Meraih 7 amplop dengan warna-warni indah beraroma cinta.Namun bukan hal mudah bagi aini menghadapi hal semacam ini. Mungkin bagisebagian wanita, sangat membanggakan ketika memiliki banyak penggemar. Tapibagi aini, surat-surat cinta itu adalah ujian bahkan bencana bagi imannya yangbelum sepenuhnya utuh.

Selanjutnya,Aini didera kegalauan yang semakin memuncak.perlahan ia mendekati meja rias dikamarnya. Ia mematut diri di depan cermin. Mengamati wajahnya yang selalu dipuji setiap manusia.  Namun betapakeadaan ini begitu menyiksanya. Betapa ia merasa ketakutan akan adanya fitnahberkepanjangan dan ujian yang silih berganti karena wajah ayunya. ‘Alloh,, apa yang harus hamba lakukan?’.Aini tergugu dalam sunyi. Namun ia segera sadar,tak seharusnya ia seperti ini. Segeraia bangkit menuju kamar mandi. Mensucikan diri, berwudlu, dan kembali kekamarnya. Meraih mukena putih dan menggelar sajadahnya. Ia teringat nasihatustadzah Fatimah, “jika kamu ingin bicarasama Alloh, maka sholatlah. Dan jika kamu ngin Alloh Ndawuhi kamu, maka bacalahAl-Qur’an”. Begitu nasihat beliau suatu ketika.

Sepersekiandetik kemudian,aini telah larut dalam sholatnya.di teruskan dengan lirihsuaranya membaca kalam ilahi. Bulir-bulir air mata menggenangi pelupuk mataindahnya. Ia ingin kegelisahannya segera purna. Dan mujarab, ia mendapatkanketenangan luar biasa.ia pun bergumam “Alloh,,berikanlah hamba kebaikan hati. Karena tiada kemanfatan di hari-Mu nantikecuali bagi mereka yang dating pada-Mu dengan qolbun salim(QS.Asy-Syu’aro: 89). Ya Robb,, lindungilah hamba dari segalafitnah. Berikanlah hamba kekuatan iman agar termasuk hamba-Mu yang sholih.Gantungkanlah hati hamba hanya pada-Mu, ya Alloh,,,”. Tangis aini semakinmenjadi. Ia tersungkur dalam sujud dan lunglai di atas sajadah. Terlelap dalamlelah.

***

Cuacacerah menyelubungi kawasan PP. Ar-Rohman. Burung-burung bernyanyi seiramadengan irama cinta yang dilantunkan hati jamil. Terbayang jelas wajah ainidalam temaram sinar bulan malam itu. Jamil benar-benar mabuk. Seumur hidupnya,baru kali ini ia rasakan getaran rasa seindah surga. Namun sejauh ini, jamil tetap bisa mengendalikan hatinya. Ia tetapbersahaja seolah tidak ada apa-apa. Namun siang itu, ia tak mampu lagimembendung beban hatinya. Di emperan musholla pondok, ia ceritakan jeritanhatinya pada sahabatnya. Hasan.
“akujatuh cinta, san”. Kata jamil dengan spontan. Tanpa ekspresi.
Tanpamenunggu lama, hasan tergelak.”hahaha… serius, bro??  Alhamdulillah… sama siapa?? Sama mbak minahanak pak parjo yang punya warung belakang pondok itu? Atau sama marni anakkelas 3 banat? Atau sama susan tetangga pondok yang selalu menor dan pakai bajusexy itu? Hahaha…”. Hasan terus tertawa tanpa mempertimbangkan perasaan jamilkala itu.
Jamilmelepas peci hitamnya yang mulai menguning. Rambut keritingnya menyembul takberaturan. Dengan suara berat, ia berucap, “mungkin orang sepertiku memang takpantas jatuh cinta, san”.
Hasanmenyadari kesalahannya yang fatal. Tak seharusnya ia mentertawakan karibnyaitu. Kalaupun ia tertawa, seharusnya tawa bahagia. Bukan tawa mengejek. “sory,bro. aku lepas control. Memangnya sama siapa kamu falling in love??” hasanmulai serius.
Jamilmeanerawang. Ia ragu apakah ia akan jujur saja pada hasan.
“woi,,malahnglamun. Sama siapa?? Sama marni anak kelas 3 banat itu?” hasan menahan tawa.Membayangkan  marni yang mirip sekalidengan omas yang sering ngelawak di tivi.
“bukan.Tapi sama sepupunya”. Jawab jamil dengan tenang.
Hasanmelongo hingga bibirnya membentuk huruf O. “maksud kamu Aini?”. Hasan masih takpercaya.
Jamilmemandang hasan. Wajahnya memelas. “iya, san. Jika ada peribahasa bagai punggukmerindukan rembulan, mungkin akulah punguk itu”.
Hasanprihatin dengan dilema cinta yang di alami sahabatnya. Wajah jamil memang taksetampan namanya. Tubuh pendek tambun, kulit hitam, dan rambut keriting.Teman-teman sepondok sering mengejeknya karena namanya tak sesuai dengan sosoknyayang mirip dengan comedian budi anduk. Tapi bagi hasan, tak ada sahabat sebaikjamil. Selain memiliki otak cemerlang, jamil adalah sosok murah senyum, takpernah marah, pemaaf, dan suka membantu siapapun. Dan satu hal yang sangatkental dengan jamil adalah bahwa ia sosok religious dengan segala aktifitasruhaniyahnya. Yah, jika nama jamil di anggap tidak sesuai dengan bentukdzohirnya, tapi hasan sangat yakin bahwa nama jamil sangat sesuai denganhatinya yang tampan.
“ah,ngomong opo aku ini, san. Sudahlah lupakan saja”. Jamil tampak putus asa.Seolah ia ingin mengubur harapan itu. Selamanya.
Hasanmenepuk pundak jamil, “gini, mil. Banyak pertimbangan soal cinta. Di usiamuyang sudah 27 ini, mungkin memang sudah saatnya kamu membangun rumah tangga.Tak ada salahnya kamu mencoba. Memang itulah tugas manusia. Kita tak dituntutuntuk berhasil, tapi paling tidak,kita harus mencoba dan berusaha. Istikhoroh,kawan”.
Jamiltersenyum. Ada guratan di keningnya. Ia merasa ada energy baru yang memompasemangatnya. “kamu benar, san. Sekarang yang ku butuhkan adalah jawabandari-Nya. Jika taqdir cintaku memang untuk aini, insya Alloh semua akan dimudahkan oleh-Nya”. Mantap.
“oke. Mas bro. Dan siap-siap saja saingansama gus songong itu.haha”. hasan memang benar-benar sebal dengan gus rofi.Hasan pun berdoa semoga jamil dan aini berjodoh. Paling tidak agar gus rofiagak mikir bahwa kesombongan itu takselayaknya melingkupi hakikat manusia yang dloif.
“hus,, gak boleh gitu, san. Mboten sae”.Jamil berkata seolah sedang menasihati adik kecilnya.
“au ah, gelap”. Bibir hasanmonyong-monyong. Jamil Cuma geleng-geleng kepala.

***

Jamilberdiri di depan cermin. Setelan sarung dan baju koko tampak rapi di badannya.Ditambah dengan peci hitam yang tersemat di kepalanya. Menutup bagian atasrambutnya yang keriting. “ya Alloh, bukan pakaian baru yang hamba kenakan. Tapiinilah pakaian terbagus yang hamba miliki. Hamba ingin meminang pujaan hatihamba.hamba niatkan semua dalam rangka beribadah kepada-Mu. Hamba pasrah dengansegala keputusan-Mu. Namun jangan Engkau jadikan hamba orang yang putus asadari Rohmat-Mu”. Jamil tertegun menatap sosok dalam cermin. Memantulkanbayangan wajah yang jauh dari kategori tampan. Namun ia selalu ingat pesanibunya ‘jika kamu merasa jelek, makajangan perburuk dengan perbuatan jelek, le..’. tiba-tiba jamil sangat merindukan wanita yang telahmelahirkannya itu.  Wanita yang selalumengajarkannya tentang indahnya bersyukur. Dan wanita yang telah memberikanrestu padanya untuk melamar aini.
“ciye..yang mau nglamar pujaan hati. Good luck, bray”. Hasan muncul dari balik pintukamar. “eh, sudah sowan yai, belum?”. Hasan hanya memastikan.
Alhamdulillahsudah, san. Yai merestui.  Beliauberkata, aini adalah wanita sholihah. Aku juga tak menyangka, aku pikir yai akan menasihatiku agarsedikit tau diri. Tapi ternyata, beliau sangat bijak dengan segala petuahnya. ‘seng penting di toto niate, le. Di niatingibadah’. Begitu pesan beliau”. Jamil tampak sumringah.
“Alhamdulillah,berarti yai merestui niat baikmu, kawan. Eh, berangkat sekarang nih? Perlu akutemani? Hehe,,”.
“takperlu, kawan. Doakan saja semoga semua lancar”.
Jamilpun lenyap di balik pintu setelah mengucap salam. Tinggallah hasan yang masihmendengar langkah jamil yang semakin menghilang. Hasan Salut akan sahabatnya yangmampu menjalani hidup penuh tawakkal.

***

Jamilkini telah duduk di ruang tamu rumah pak abdul, ayah aini. Beberapa menit yanglalu, jamil telah berhasil menyusun kalimat dengan baik dan mengutarakan maksudkedatangannya.
Selanjutnya,suasana hening menyergap. Hingga hela nafas dua lelaki beda generasi ituterdengar jelas.
“begini,nak. Semenjak ibunya aini meninggal, bapak menjadi orang tua tunggal bagiaini.  Bapak sangat menyayanginya. Tapibapak sadar, bapak tak mungkin selalu menjaganya. Apalagi bapak sudah tua.Bapak ingin aini memiliki imam yang baik seperti harapannya. Bapak tau profilmudari farhan, sepupu aini yang katanya temanmu di Ar-Rohman. Bapak sangatmendukung ketika aini mendambakan lelaki sholih. Aini tak pernah mempedulikanharta, tahta, maupun rupa. Namun begitu, keputusan tetap ada di tangannya.Bapak sebagai orang tua sekedar mendoakan yang terbaik untuk anaknya”. Pakabdul mengahiri kalimatnya.
Jamilsangat memaklumi kalimat bijak pak abdul. Jamil merasa tak ada penolakan dari sederetkalimat tersebut. Apakah ini pertanda bahwa jamil diterima?
Belum.Karena seperti kata pak abdul, keputusan ada di tangan aini. Sepanjangpertemuan malam itu, aini tidak tampak sama sekali. Entah itu kemauannyasendiri atau atas perintah pak abdul, jamil tak tau pasti. Yang jelas,husnudzon jamil adalah bahwa ketiadaan aini malam itu adalah dalam rangka menyelamatkan niat jamilagar tidak tercemari dengan sekedar ingin memiliki paras  cantik aini. Dan agar jamil tetap istiqomahlillahi ta’ala. Dan jamil yakin, aini sekarang berada dibalik tirai pembatasruang tamu itu. Mendengar denga seksama apa yang di utarakan jamil, sang lelakibiasa.

***

Dadajamil berdegup kencang. Matanya menunduk menatap rajutan taplak meja ruang tamurumah pak abdul. Ia tak berani menatap manusia indah di hadapannya. Ia gugupketika mencuri pandang senyum indah itu, senyum yang selalu menghiasi mimpinya.Senyum yang selalu meresahkan setiap sujudnya. Ya, jamil sedang berhadapandengan aini. Kemarin pak abdul memintanya untuk datang kerumahnya karena aini inginmenyampaikan jawabannya secara langsung.
“ma..maaf,mbak aini. Mungkin saya telah lancangdengan segunung harapan saya. Saya tidak berharap banyak. Saya sekedarmenggantungkan harapan saya pada-Nya. Saya cukup tau diri. Saya hanya lelakimiskin buruk rupa dan tak punya apa-apa.” Jamil mengawali obrolan dengansedikit terbata. Bagaimanapun iaadalah manusia biasa yang terkadang terjebek dalam dimensi kemanusiaannya, takut gagal.
Ainitetap tenang dalam duduknya.ia tidak ingin berkata banyak. Dengan tetapmenundukkan mata, aini mulai merangkai kalimat singkatnya,”Bismillah, sayaterima maksud njenengan, kang”. Aini tersenyum. Ia mulai berani melirik manusiadihadapannya.
Jamilterperanjat. Seolah tubuhnya terhempas ke langit 7. Menyentuh kayangan danbersua bidadari surga. Danbidadari itu kini duduk di hadapannya. Secara reflek, jamil mengangkat wajahnya yang sedaritadi tertunduk lesu. Seolah ia tak percaya dengan kalimat yang baru saja iadengar. ‘ah, apa aku bermimpi?’. Dan ketika dua pasang bola mata itu beradu, cess!!, jamil seperti meleleh bagaibongkahan es dalam kehangatan mentari. Dan dalam sekejap, ruang tamu punberubah menjadi taman bunga nan indah mempesona.
Jamiltak kuasa membendung rona bahagianya. Hingga ia terisak penuh haru karenatenggelam dalam scenario cinta-Nya.
“atasdasar apa mbak aini memilih saya?” Tanya jamil dengan setengah terisak.
Ainihanya tersenyum simpul hingga jamil meneruskan kalimatnya. “saya ini pemudamiskin, mbak. Saya juga tidak tampan”
Denganlembut, aini pun balik bertanya. “jika njenengan merasa seperti itu, lalu atasdasar apa njenengan dating kesini? Melamar saya”.
Jamilberusaha menenangkan hati. Sekuat tenaga ia menyuarakan kejujuran hatinya.“entah, mbak. Yang jelas, saya suka sama mbak waktu pertama kali saya melihatmbak di acara haflah pondok. Saya sempat berfikir mungkin itu perasaan wajar seoranglelaki yang melihat wanita cantik. Tapi ternyata tidak. Saya tidak bisamengusir bayangan mbak yang hanya saya lihat sekali”. Jamil menunduk dalamgemuruh hatinya. Ia malu kenapa harus sejujur ini.
Namunberbeda dengan aini. Banyak lelaki yang memujinya. Namun baru kali ini iamerasakan pujian seekspresif dan setulus ucapan jamil.
“memangnyamenurut njenengan saya ini cantik?”. Aini bertanya penuh selidik. Pertanyaanmenggoda.
“cantiksekali mbak”. Ups, semangat 45 itu nyeplos begitu saja. Jamil merasa sangatmalu. Tak seharusnya ia begitu.
ainitertawa  geli. ‘polos sekali orang ini’. batinnya .
“kangjamil, jika sekarang njenengan mengagumi saya, apa njenengan akan melakukan halyang sama setelah 10 atau 20 tahun kemudian?” pertanyaan cerdas.
Jamilmerasa ada ketenangan di sisi wanita ini.
“sayadatang kesini hanya bermodallillahi ta’ala, mbak.dan saya yakin, segala sesuatu yang di dasari atas-Nyaakan selalu indah tak mengenal batas waktu. Bagi saya njenengan akan tetapseperti ini sampai kapanpun. Tapi ada syaratnya”. Jamil menggantung kalimatnya.
“apasyaratnya?”. Tanya aini penasaran.
“Syaratnya kalau mbak aini jadiistri saya dan halal untuk saya kagumi”. Jawaban ringan tanpa beban.
Ainitertawa. Menampakkan barisan giginya yang putih. Pipinya merona indah. Menurutaini, ‘punya sense of humor juga rupanyakang jamil ini’.
Jamilsalah tingkah. Apa ada yang salah dengan kalimatnya?. Benar-benar manusia lugu.
“jadibagaimana, mbak?” pertanyaan H2C (harap-harap cemas).
“insyaAlloh, saya terima pinangan njenengan, kang. Dan sebagai syarat pernikahan kitananti, saya minta sejuta”.
Jamilkaget bukan kepalang. Ia membayangkan tabungan hasil tokonya yang baruterkumpul 900 ribu.belum lagi untuk acara seserahan pas acara walimah.Benar-benar kacau beliau.
Ainitak tega melihat wajah jamil yang kebingungan. Dan ia segera mengahiridramanya. “sejuta itu, setia, jujur, dantaqwa. Bagaimana? Sanggup?”. Aini mengangkat kedua alisnya. Menuggu  jawaban.
Tak ada keraguan di hati jamil. Wanita dihadapannya benar-benar bukan wanita biasa. Di tengah budaya matrealistis yangsubur menjajah kaum hawa bak bui padang sahara, ternyata jamil menemukan perhiasandunia yang yang indah tiada tara di sela-selanya. Ya, karena wanita sholihahadalah perhiasan dunia. Perhiasan yang tak silau oleh dunia dan seisinya. Dankeindahan itulah yang menuntun lisan jamil untuk memuji Tuhannya. Subhanalloh,,
“insya Alloh, mbak. Saya siap menjadisuami sejuta untuk njenengan”. Ada kelegaan di antara keduanya. Dan ada cintayang mengiringi perjalanan bahtera suci yang akan mereka lalui.

***

Suara bising tamu undangan yang hadirmemenuhi pelataran rumah pak abdul yang tak begitu luas.  Tepat di atas pintu masuk bertuliskanrangkaian kalimat sederhana tulisan tangan hasan “mohon doa restu, jamil &aini”. Berpasang-pasang mata memandang dua tokoh sentral dalam acara itu.Pandangan mata yang beragam. Ada yang turut bahagia. namun tak jarang sorotanmata itu begitu menusuk seolah meneriakkan genderang kekalahan ‘kenapa harus siburuk rupa yang jadi pemenang?’. Atau ‘pasti si manusia tak tau diri itu pakaiguna-guna’. Atau ‘sayang sekali si aini. Cantik-cantik tapi matanya meleng gakbisa membedakan barang impor dan benda kwalitas rendah’. Bukan berarti Aini takmendengar kasak-kusuk yang perih menusuk. Namun baginya, lelaki disampingnyaadalah anugrah terindah Tuhan yang telah lama menantinya. Kelak ‘mereka’ akantau bahwa tak seharusnya mulut-mulut sombong itu  menghina ciptaan-Nya. Dan dengan bangga, Ainimenggamit lengan manusia di sampingnya, silelaki biasa.
Dan jamil tak hentinya bertasbih. Begitutentram memandang keindahan yang halal penuh berkah nan berpahala. Dan keindahansejati adalah indah menurut-Nya. “seakan-akanbidadari itu permata yakut dan marjan. Maka ni’mat Tuhanmu yang manakh yangkamu dustakan?”. (QS. Ar-Rohman : 58-59)
Kini, setelah 10 tahun dari perhelatanhari indah itu, jamil tetap menjadi suami sejuta nan bersahaja bagi Aini danayah yang baik bagi 7 putra-putri aini.

Dear diary,,
Adayang bilang manusia berada tepat di tangah permainan takdir.dan ku rasabegitulah adanya.entah kenapa tiba-tiba aku tergelitik untuk berfikirdemikian.tentu tak lepas dengan segala hal yang ku alami.sedikit cerita tentangperkenalanku dengan seorang yang memberi warna indah hidup,begitu akumenyebutnya.seorang leleaki biasa yang karena sikap dan sifat “biasa”itulahyang membuatku jatuh cinta.pertemuan itu,perkenalan itu,rasa itu,dan semua yangmelingkupi kami tak akan terjadi tanpa kehendak dan takdir Tuhan,bukan?
singkatcerita,dia bukanlah lelaki pertama yang hadir dalam hidupku.tapi lagi-lagiinilah rahasia Tuhan.kenapa harus dia,lelaki biasa itu?tapi tahukah jikadibalik “biasa”nya itu dia istimewa bagiku.ketika banyak yang bertanya “kenapakamu lebih memilih dia?”.maka dengan bangga ku katakan pada dunia “karena dialelaki biasa”.tak sedikit yang masih menyimpan tanda tanya.kenapa harus lelakibiasa?aku hanya mampu menyimpan seberkas senyum karena mungkin alasanku takbisa di logika.aku menyadari betul akupun wanita biasa.namun akupun manusiabiasa layaknya lelaki biasa itu dan manusia pada umumnya.tapi satu hal yangjarang dimiliki manusia adalah sikap kemanusiaannya yang terkadang terkurungkarena kelebihan yang di anugerahkan tuhan untuknya.ada yang merasatampan,merasa pintar,merasa kaya,dan sederet kemampuan yang membuat manusiamerasa berkuasa.
Tapitidak untuk lelaki biasaku.di awal kehadirannya,dengan gentle ia berkata“maaf,aku tak punya apa-apa.sepenuhnya aku milik-Nya.aku hanya ingin datangkepadamu dan membahagiakanmu sesuai kehendak-Nya.semoga allah meridhoi niatkudan jika berkenan ku ingin membawamu serta dalam perjalanan mencariRidho-Nya”.itulah lelaki biasaku.yang tak pernah takut dan hawatir tentang hariesok yang mungkin tak sesuai dengan skenario manusia.cintanya yang begitu besarpada-Nya membawaku dalam alur cerita seindah bidadari surga.aku tak pernahkecewa ketika suatu kali ia melakukan kesalahan.meski terkadang aku sakitkarena beberapa hal di mana kami bersinggungan,tapi saat itu pula aku kembalipadanya.memaklumi bahwa ia tetaplah manusia biasa sepertiku yang tak luput darisalah dan lupa.
Danketika aku menatap kebelakang,dimana “mereka” yang bertanya tentang “dia” silelaki biasaku untuk kesekian kalinya.namun tak hanya tanya.bahkan mereka puntak segan menarik garis titik perbandingan yang sangat curam dan teramatdalam.aku tak pernah rela ketika lelaki biasaku disamakan dengan “mereka” yanglebih tampan,lebih kaya,lebih pintar,lebih terhormat(dalam kaca matamanusia),dan lebih lainnya.sungguh semua itu membuatku muak.karena selamanyalelaki biasaku tak punya kelebihan seperti mereka dan tak akan pernah sama.cukuplahkelebihannya ada di hadapan Tuhannya.dan bagiku “mereka” tak lebih istimewadari “lelaki biasa”ku.
Dalamperjalanan inipun aku tak meminta apapun darinya.apalagi janji-janji yang dianggap sebagai hal biasa bagi “mereka”.ku harap lelaki biasaku akan tetapseperti itu.menjunjung tinggi nama Allah dan Rasulullah melebihi  segalanya.aku ingin seperti dia yang takputus untuk memahami hakikat hidup dan tak pernah mampu merisaukan fitnahdunia.dunia lelaki biasaku yang begitu tenang walau terbentur berbagai bentukbatu karang,walau tergores luka yang terkadang tercipta dari tingkahkusendiri.dia yang mampu menerimaku dan menjadikanku ratu tanpa memandang begitukurangnya aku.menyambutku dengan senyum ikhlasnya dan memberikan aku tempatternyaman di hatinya.
Kepadalelaki biasaku,terima kasih telah mencintai Allah dan Rasul-Nya..


beautiful10th
Nurulaini jamil

Tidak ada komentar:

Posting Komentar