CINTA LELAKI BIASA
Jamil tengah memberesi barang-barang ditokonya. Hari ini tokonya harus tutup awal karena sepanjang jalan PP. Ar-Rohmanharus di tutup untuk acara haflah akhirus sanah malam harinya. Jamil juga didaulat menjadi pembawa acara pada acara itu. Sejenak ia menimbang ‘pakai baju mana kira-kira nanti malam ya?’.Tiba-tiba jamil tersenyum geli ‘lha wongora ngganteng ae kok kakean istilah’. Tapi terkadang performa seseorangmemang di nilai dari balutan dzohirnya. Ibarat pepatah jawa, ajineng rogo soko busono. Dan sepertinyajamil lebih memilih tampil sederhana. Yang penting rapi dan sedikit membantukenyamanan show-nya yang di anggaptidak good looking itu.
“mil, ayo mangkat. Jam piro iki?” jamilmelongok di antara deretan rentengan shampo. Mancari sumber suara. Gus Rofi, Lurah pondok.
“ya, gus. Sampeyan dulu saja. Nanti sayanyusul”.
Tapi mendengar jawaban itu, gus rofitampak tak suka. “heh,sampeyan ikijangan mentang-mentang jadi wong penting di acara terus sak penak’e udelmu.baru di izini yai buka toko di pondok saja sudah sok. Arep jungkir walik yo gakbakal sugih, kon. Gawe sangu rabi, ta? Haha.. ngimpi, kon”.
